Showing posts with label pekerjaan. Show all posts
Showing posts with label pekerjaan. Show all posts

Thursday, May 25, 2017

Kisah Inspirasi Mengharukan – Kakek Penjual Amplop


Kisah Inspirasi Mengharukan ini tentang seorang kakek yang berjuang mencari nafkah untuk bertahan hidup dengan menjual amplop surat . kisah mengharukan ini sipolos kutip dari beberapa sumber website, menurut sumber dari website yang sipolos kutip kisah ini pertama kali ditulis oleh seorang Dosen di ITB. Semoga Kisah Kakek Penjual Amplop yang mengharukan ini menjadi bahan renungan kita untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki. berikut kisah yang dituliskan oleh pak dosen.

Setiap Saya menuju ke Masjid Salman ITB untuk melaksanakan shalat Jumat, saya selalu melihat seorang Kakek yang sudah cukup renta duduk di depan sebuah bungkusan plastik yang berisi kertas amplop. Ternyata kertas amplop tersebut adalah barang dagangannya. Sepintas barang dagangannya itu terasa aneh, karena pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha pada hari Jumat. Pedagang di tersebut umumnya adalah penjual makanan, DVD bajakan, pakaian, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang aksesoris lainnya. Tentu agak aneh dia nyempil sendiri menjual amplop kertas yang merupakan barang yang sudah tidak terlalu dibutuhkan pada zaman modern yang serba elektronik seperti sekarang. Masa keteran pengiriman surat secara konvensional melalui kantor pos sudah berlalu, namun Kakek tersebut tetap bertahan menjual amplop surat. Mungkin saja Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman yang sekarang sudah serba teknologi informasi yang cepat dan instan, sehingga dia berfikir masih ada banyak orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Adanya Kakek tua dengan amplop surat dagangannya yang tidak laku-laku tersebut itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang ingin membeli amplopnya itu? Bahkan sangat jarang sekali orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membeli sebuah amplop. Lalu lalang orang orang yang bergerak menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan adanya Kakek tua itu.

Ketika hendak shalat Jumat di Salman lagi saya melihat Kakek tua itu lagi yang sedang duduk bersama dagangannya. Saya berkata dalam diri saya, saya akan membeli amplopnya itu setelah usai shalat, meskipun sebenarnya saya sedang tidak membutuhkan amplop tersebut. Saya membelinya sekedar ingin membantu Kakek tersebut melariskan dagangannya. Seusai saya shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tersebut. Kemudian Saya tanya “berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu” tanya Saya. “Seribu”, jawab kakek tersebut dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga dari sebungkus amplop dengan isi 10 lembar itu hanya dihargai seribu rupiah? Uang seribut itu hanya cukup untuk membeli 2 gorengan bala bala. Uang sebesar 1000 rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi sangatlah berarti bagi Kakek tua itu. Saya terdiam sesaat dan berusaha menahan air mata haru mendengar harga yang sangat murah tersebut. “Saya beli amplopnya 10 bungkus yah pak”, kata saya.

Kakek itu terlihat senang karena amplop dagangannya saya beli dalam jumlah yang cukup banyak. Dia memasukkan 10 bungkus amplop yang isinya 10 lembar per bungkusnya ke dalam sebuah bekas kotak amplop. Tangannya terlihat sedikit bergetar ketika memasukkan amplop ke dalam kotak.

Kemudian Saya kembali bertanya kepada si kakek kenapa dia menjual amplop tersebut dengan semurah itu. Padahal kalau kita beli amplop di warung harga peramplopnya tidak mungkin dapat 100 rupiah. Dengan uang 1000 rupiah mungkin kita hanya dapat 4 atau 5 amplop. Kemudian Kakek itu menunjukkan selembar kertas kwitansi kepada saya, kertas tersebut adalah kwitansi pembelian amplop dari toko grosir tempat kakek itu membeli dagangannya. Tertulis pada kwitansi tersebut nota pembelian untuk 10 bungkus amplop senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil untung sedikit”, kata si kakek. Jadi, untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu si kakek hanya mengambil keuntungan Rp250. Mendengar jawaban jujur dari si Kakek itu, saya terharu dan prihatin. Jika pedagang lain yang nakal yang suka menipu harga dengan menaikkan harga jual agar keuntungan berlipat-lipat, Si Kakek  itu dengan jujurnya menjual amplop tersebut dengan keuntungan yang tidak seberapa. Andaikan bisa terjual sepuluh bungkus amplop, berarti keuntungan yang diperoleh tidak sampai atau mampu untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapa juga orang yang akan mau membeli amplop dengan banyak pada zaman sekarang ini? Dalam sehari belum tentu si kakek itu laku menjual 10 bungkus, apalagi untuk menjual 20 bungkus amplop agar dapat mampu membeli nasi.

Setelah selesai bertanya saya lalu membayar 10.000 rupiah untuk membayar 10 bungkus amplop, Tidak lupa saya menyelipkan sedikit uang lebih kepada Kakek tua tersebut untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerimanya dengam tangan bergetar dan sambil mengucapkan terima kasih kepada saya dengan suara hampir menangis. Lalu saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata saya ini sudah tidak tahan untuk menahan air mata yang ingin keluar. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman difacebook yang kurang lebh seperti ini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangannya yg tak laku-laku, ibu-ibu tua yg duduk didepan warungnya yg selalu sepi. Ayo Carilah alasan – alasan untuk dapat membeli barang dagangan mereka, meskipun kita tidak terlalu membutuhkannya pada saat ini. Jangan selalu membeli barang barang yang kurang dibutuhkan  di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap, sekali kali keluarkan sedikit rejeki kita untuk membeli sesuatu ke pedagang yang sudah tua dan renta….”

Si Kakek penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang sudah tua dan renta yang seharusnya sudah menikmati masa tuanya dirumah bermain sama cucu cucu mereka tetapi mereka sebaliknya masih tetap berjuang mencari nafkah untuk membeli makan untuk bertahan hidup dengan menjual barang barang yang kurang laku. Cara paling sederhana dan mudah untuk membantu mereka ialah bukan memberi mereka uang secara cuma cuma, tetapi belilah dagangan mereka atau gunakan jasa mereka. Meskipun misalkan barang yang di jual oleh mereka kurang dibutuhkan oleh kita atau sedikit lebih mahal dari pada harga di toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita sudah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat dari pada para pengemis yang berkeliaran di sekitar masjid Salman, meminta-minta kepada orang orang yang lewat. Para pengemis itu menyuruh atau mengerahkan anak-anak mereka untuk memancing iba orang -orang yang lewat. Tetapi berbeda dengan si Kakek penjual amplop tersebut, dia tidak mau mengemis, tetapi ia tetap teguh mencari uang halal dengan berjualan amplop walaupun keuntungannya tidak seberapa.

Sesampai dikantor  saya amati kembali bungkusan amplop yang tadi saya beli dari si Kakek tua. Memang benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop tersebut saat ini, tetapi uang 10000 rupiah yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan bagi si Kakek tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Memang saat ini belum diperlukan oleh saya tapi siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat – jumat yang  selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana dan duduk melamun di depan dagangannya yang sepih pembeli.

Dari kisah inspirasi mengharukan tentang kakek penjual amplop yang diceritakan / ditulis oleh pak dosen tersebut, semoga kita bisa belajar untuk bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. jangan mengeluh disaat kita sedang kesusahan, karena diluar sana masih banyak orang yang lebih susah dari kita. dan disaat kita memiliki rezeki yang lebih ada baiknya kita berbagi kepada orang – orang yang sedang membutuhkan. Memberi sedikit rezeki yang kita miliki tidak akan membuat kita jatuh miskin.

Source : http://www.sipolos.com/kisah-inspirasi-mengharukan-kakek-penjual/

Cerita Motivasi Hidup Tentang Seorang Guru Bijak dan Toples Besar


Ada seorang guru bijak yang sangat disukai oleh murid – muridnya. Murid beliau pun cukup banyak dan yang datang pun banyak dari tempat jauh, Mereka berbondong – bonding datang untuk mendengarkan petuah atau kata kata bijak yang sering keluar dari mulut guru bijak tersebut. Pada suatu ketika, seperti biasanya, murid-murid beliau datang dan berkumpul untuk mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh sang guru. Mereka datang satu persatu dan duduk dengan rapi dan tenang, serta memandang ke depan, dan siap untuk mendengar apa yang akan dikatakan atau disampaikan oleh sang guru.

guru bijak dan toples besar

Kemudian sang guru pun tiba, lalu beliau duduk di depan murid – muridnya. Beliau datang dengan membawa sebuah toples yang cukup besar, lalu disampingnya terdapat beberapa tumpuk batu yang memiliki warna kehitaman yang memiliki ukuran segenggaman tangan. Kemudian tanpa bicara sedikit pun, Beliau mengambil batu – batu itu dan kemudian satu persatu batu – batu tersebut di masukkan dengan hati-hati ke dalam sebuah toples kaca yang ia bawa. Kemudian ketika toples itu sudah penuh dengan batu hitam yang dimasukkan oleh sang guru tersebut, Lalu beliau berbalik dan menghadap ke murid – muridnya dan langsung bertanya.

“Apakah toples ini sudah penuh?”

Serentak murid – muridnya menjawab,

“Iya guru, Benar, toples itu sekarang sudah penuh”.

Tanpa berkata apapun, sang guru lalu memulai memasukkan kerikil – kerikil bulat berwarna merah yang memiliki ukuran lebih kecil dari batu sebelumnya ke dalam toples tersebut.Karena kerikil itu lebih kecil sehingga dapat masuk dan jatuh pada sela – sela batu hitam besar yang dimasukkan lebih awal. Kemudian Setelah semua kerikil itu sudah masuk kedalam toples, sang guru kembali berbalik kepada murid – muridnya, kemudian bertanya kembali.

“Apakah toples ini sudah penuh?”

Serentak murid – muridnya menjawab kembali,

“Iya guru, Benar, toples itu sekarang sudah penuh”.

Masih tanpa berkata apapun, kini sang guru telah mengambil satu wadah pasir yang halus, kemudian beliau memasukkan pasir halus tersebut ke dalam toples. Tentu dengan mudah pasir halus tersebut masuk memenuhi ruangan kosong dari kerikil merah dan juga batu hitam. Setelah pasir halus itu semuanya masuk, sang guru kembali berbalik dan bertanya lagi ke para muridnya.

“Apakah toples ini sudah penuh?”

Karena para murid sudah salah dua kali, kali ini murid murid itu tidak terlalu percaya diri untuk menjawab pertanyaan dari guru mereka. Akan tetapi karena terlihat bahwa pasir halus tersebut jelas sudah memenuhi sela – sela dari kerikil dan batu yag sudah dimasukkan ke dalam toples, membuatnya sudah terlihat tampak penuh. Walaupun agak sedikit ragu beberapa dari murid itu ada yang mengangguk dan menjawab,

“Iya guru, Kali benar, toples itu memang sudah penuh”.

Ternyata tetap tanpa berkata apapun lagi, Sang guru kembali berbalik, kali ini dia mengambil sebuah tempayan yang berisi air, Kemudian beliau menuangkan air itu dengan hati – hati ke dalam toples besar yang sudah terisi oleh batu besar hitam, krikil dan juga pasir tadi. Dan ketika air sudah mencapai di bibir toples,Sang guru kembali berbalik kepada para murid, dan bertanya kembali

“Apakah toplesnya sudah penuh?”

Saat itu kebanyakan para murid lebih memilih untuk diam, akan tetapi ada dua sampai tiga orang yang memberanikan diri untuk menjawab,

“Iya guru” jawab sedikit murid tersebut.

Ternyata tetap sang guru masih belum berkata apapun, beliau malah mengambil satu kantong garam halus. Kemudian beliau menaburkan sedikit – sedikit serta hati-hati memasukkan garam –garam itu diatas permukaan air, dan garam halus itu pun sedikit demi sedikit larut, dituangkannya sekantong garam tersebut sampai habis dan garam – garam itu juga larut kedalam air. Sang guru kembali menghadap kepada murid-muridnya, dan kembali, bertanya, “Apakah toplesnya tersebut sudah penuh?”

Saat itu semua murid berdiam diri tanpa menjawab apapun. Hingga akhirnya ada seorang murid yang memberanikan diri untuk menjawab.

“Iya guru, toples itu sekarang sudah penuh”.

Sang guru akhirnya menjawab, “Iya benar, toples ini sekarang sudah penuh”.
Beliau kemudian melanjutkan ucapannya,

“Sebuah cerita selalu memiliki banyak makna, dan setiap dari kalian telah memahami banyak hal dari demonstrasi ini. Diskusikan dengan tenang sesama kalian, apa hikmah yang kalian punya. Berapa banyak hikmah berbeda yang dapat kalian temukan dan kalian ambil darinya.”

Murid-murid kemudian memandang sang guru, dan juga memandang toples yang sekarang sudah berisi penuh dan juga memiliki berbagai warna, ada warna hitam, merah, ada juga pasir, air, dan juga garam. Kemudian dengan cukup tenang mereka berbisik ( mendiskusikan ) dengan para murid lainnya. Kemudian setelah beberapa menit sang guru lalu mengangkat tangannya, dan seluruh ruangan pun terdiam. Beliau lalu berkata,

“Selalu ingatlah bahwa tidak pernah ada hanya satu interpretasi dari segalanya. Kalian sudah mengambil semua hikmah dan juga pesan dari cerita, dan setiap hikmah, sama pentingnya dengan yang lain” Setelah berkata seperti itu kemudian tanpa berkata-kata lagi, sang guru bijak itu bangkit dan meninggalkan ruangan.

 Dari cerita motivasi hidup guru bijak dan toples besar diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam menilai sesuatu tidak dapat disimpulkan atau dikatakan benar jika hanya memandang dari satu sudut pandang. seperti cerita motivasi diatas. jika melihat dari sisi batu besar hitam, memang benar toples itu sudah penuh jika dimasukkan batu besar hitam lainnya. tapi jika dimasukkan dengan batu yang lebih kecil (batu krikil) ternyata toples itu masih belum penuh dan masih bisa dimasukkan lagi. begitu seterusnya. jadi untuk menyimpulkan suatu peristiwa atau apapun itu, kita harus melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda agar dapat mengambil kesimpulan yang benar -benar bisa di pertanggung jawabkan.

Semoga cerita motivasi hidup guru bijak dan toples besar ini, dapat memberikan kita inspirasi dan motivasi dalam mengambil sebuah keputusan didalam kehidupan kita.

Source : http://www.sipolos.com/cerita-motivasi-hidup-guru-bijak-dan-toples-besar/

Totalitas Berhijrah, Mantan ‘Wine Tester Specialist’ Ini Sekarang Jualan Susu Kedelai


Seorang pemuda asal Bekasi ini memutuskan untuk totalitas berhijrah dengan meninggalkan semua pekerjaan lamanya yang haram dan memilih pekerjaan barunya yang halal.

Pekerjaan pemuda ini sebelumnya merupakan Chef di hotel bintang lima dan pernah menjadi “wine tester specialist” atau sebagai tukang cicip minuman anggur.

Alhamdulillah setelah hijrah, pemuda ini meninggalkan pekerjaan haramnya dan berubah 180 derajat dengan memilih menjadi penjual susu kedelai dan sari kacang hijau di Pasar Pagi Perum Kota Legenda Zamrud Mustika Jaya Bekasi.

Rutinitas harianya adalah bangun pukul 02:00 WIB dini hari menunaikan Sholat Tahajjud, dilanjutkan dengan mengolah kacang hijau dan kedelai. Pukul 06:00 mulai berjualan dan pukul 09:00 jualanya sudah habis. Siang hari hingga malam dihabiskan waktunya untuk mengkaji Ilmu Islam.

“Kerjaan ane tahajud, jualan susu kedelai sampingannya” ujar sang pemuda kepada netizen bernama Eko June dan dipublikasikan di akun Facebook pribadinya, selasa(15/11/2016).

Pengalamannya sebagai Chef yang dilakukanya selama bertahun-tahun membuat produknya memiliki rasa yang enak dan banyak diminati pelangganya.

Target yang ingin dicapai oleh pemuda ini tidak terlalu tinggi, dari hasil berjualan susu kedelai dan sari kacang hijau sang hasilnya cukup untuk tabungan haji, sedekah, hidup sehari-hari dan pendidikan Islami.

Sumber:http://islamidia.com/totalitas-berhijrah-mantan-wine-tester-specialist-ini-sekarang-jualan-susu-kedelai/

Wednesday, May 24, 2017

Keterbatasan Ekonomi Tidak Menghalangi Gadis Cantik Berhijab Ini Untuk Berprestasi Dan Meraih Mimpinya.


Perjuangan Nida Fauziah menyelesaikan studinya di program studi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad), demi membahagiakan ibunda, membuahkan hasil.

Gadis cantik berhijab ini telah sukses menyelesaikan studinya. Bukan hanya lulus dengan gelar sarjana, Ia juga lulus dengan waktu masa studi hanya 3 tahun 2 bulan dan telah tercatat sebagai Wisudawan Terbaik pada Program Sarjana Wisuda Gelombang I Unpad Tahun Ajaran 2014/2015.

Selain itu, Nida pun lulus dengan nilai IPK, 3,86. Semasa kuliah, ia adalah mahasiswa yang menerima dana Bidikmisi, yang merupakan sebuah program bantuan untuk biaya pendidikan dari pemerintah untuk mahasiswa yang berprestasi akan tetapi tidak mampu secara finansial.

“Dulu mamah sempat bertanya darimana biaya untuk kuliah? Akhirnya ketika diterima di Unpad pihak fakultas mengajukan saya ikut Bidikmisi. Mamah pun mendukung,” kenang gadis asal Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, ini.

Anak bungsu dari 2 bersaudara ini mengatakan, di keluarganya hanya ia yang berhasil melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Sesaat setelah ayahnya meninggal, biaya pada waktu ia sekolah telah ditanggung oleh paman dan juga beberapa saudaranya. Akan tetapi, keterbatasan ekonomi yang di alaminya tidak lantas membuat Ia putus asa.

Nida pun mantap untuk meneruskan studi ke Unpad, yang merupakan kampus favoritnya sewaktu ia masih duduk di MAN Kiarakuda, Tasikmalaya. Nida pun rutin mengambil Semester Antara dan juga memilih konsentrasi Filologi, sebuah cabang ilmu sastra yang  memang disukainya.

“Ada mitos kalau mahasiswa Filologi itu lulusnya lama. Namun, saya dapat membuktikan ke teman-teman bahwa mengkaji Filologi juga bisa cepat,” kata Nida yang skripsinya meneliti tentang Naskah Sunda Wawacan Dewa Ruci.

Selama sebulan, Nida telah mengerjakan skripsinya walaupun sempat didera rasa bosan. Akan tetapi target untuk dapat diwisuda pada bulan November terus membayanginya.

Doa dan juga dukungan dari ibunya, hingga dukungan dosen serta teman-temannya di Sastra Sunda diakuinya sangat membantunya untuk dapat menyelesaikan studi.

Fokus terhadap akademik tidak lantas membuatnya mengabaikan kegiatan berorganisasi. Nida pun cukup aktif di Paguyuban Mahasiswa Sastra Sunda (Pamass) Unpad.

“Tentunya kita jangan lupa tujuan utama kita yaitu berkuliah. Seimbangkan saja antara kuliah dengan organisasi, jangan terlalu di-push di organisasi,” ungkap gadis kelahiran Ciawi, 21 Desember 1992.

Nida Fauziah mengaku bangga sudah berhasil menyelesaikan studi di Unpad serta menyandang predikat sebagai wisudawan terbaik walaupun berasal dari keluarga yang sederhana.

Cerita dari Nida Fauziah ini bisa menjadi contoh yang baik untuk kita yang sering merasa putus asa dalam meraih mimpi dikarenakan tidak memiliki perekonomian yang cukup. Nida telah membuktikannya, dengan keadaan ekonomi yang bisa dibilang serba keterbatasan, tidak membuat Ia menyerah dan putus asa dalam keinginannya untuk meraih mimpi agar bisa kuliah dan lulus sebagai sarjana.

Source : http://www.sipolos.com/keterbatasan-ekonomi-tidak-menghalangi-gadis-cantik-berhijab-ini/

Tuesday, May 23, 2017

Kisah Seorang Guru Bijak dan 3 Muridnya



Pada suatu hari ada seorang guru bijak yang memiliki 3 murid terbaik, dia memberikan sebuah pertanyaan kepada muridnya. Pertanyaan tersebut merupakan sebuah pertanyaan yang amat penting bagi ketiga murid tersebut, karena jawaban dari pertanyaan tersebut menentukan siapa yang kelak tepat untuk menggantikan sang guru. Berikut ini Kisah Seorang Guru Bijak dan 3 Muridnya!
Kisah seorang guru bijak

Disebuah desa, tinggal seorang guru bijak yang sudah tua, Dia mencari seseorang yang dapat menggantikannya untuk dapat meneruskan menjadi seorang guru untuk mengajari kebaikan bagi murid muridnya. Ada 3 murid terbaik yang dipilih untuk menjadi calon penggantinya.

Dalam memilih siapa yang pantas untuk menggantikan guru bijak tersebut, Ke 3 murid tersebut di beri tantangan oleh sang guru untuk menjawab sebuah pertanyaan. Pertanyaan tersebut ialah “Apakah makna kekayaan bagi manusia?”

Untuk menjawab pertanyaan itu, sang guru kemudian mempersilahkan ke 3 muridnya tersebut untuk pergi berkelana mencari jawaban dari pertanyaan tersebut.

Setelah 3 tahun pergi merantau naik turun gunung melewati kampung ke kampung dan juga dari kota ke kota untuk mencari sebuah jawaban yang diberikan oleh gurunya, ke 3 murid akhirnya kembali. Karena kini sudah tiba bagi para murid tersebut untuk menjawab pertanyaan dari sang guru.

Kemudian sang guru mempersilakan kepada muridnya satu persatu untuk memberikan jawaban dari pertanyaan yang sudah diberikan.
Jawaban Murid Pertama

Murid pertama menjawab: “Wahai guruku, setelah 3 tahun muridmu ini merantau, Menurutku jawaban dari makna kekayaan bagi manusia adalah akar dari kejahatan. Dalam perjalanan, saya banyak menjumpai banyak manusia yang rela melakukan berbagai hal untuk memperoleh kekayaan. Mereka banyak melakukan kejahatan dengan kecurangan, melakukan tipu muslihat, perampokan bahkan mereka tega melakukan pembunuhan untuk dapat memperoleh kekayaan. Dan bahkan setelah mereka meraih kekayaan, banyak dari mereka kemudian menggunakan kekayaan yang didapat tersebut untuk melakukan berbagai perbuatan yang tidak baik. Banyak dari mereka menggunakan kekayaan tersebut untuk berjudi, mabuk-mabukan serta berzina. Wahai guruku menurut kesimpulan dari pengamatan saya tidak ada kebaikan sedikitpun dari kekayaan”.

Sang Guru: “Oh pengamatanmu sungguh sangat menarik sekali muridku. Lalu bagaimana menurutmu apa yang seharusnya kita lakukan?”

Murid Pertama: “Menurut pendapatku manusia harus menjauhkan diri dari kekayaan karena kekayaan adalah sumber dari kejahatan. Agar diri kita dapat selalu dekat dan juga ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita harus hidup jauh dari kekayaan. Kita harus selalu dekatkan diri kita kepada Yang Maha Esa dan tinggalkan lah ikatan keduniawian seperti kekayaan. Karena kita perlu memurnikan hati kita dengan meninggalkan hal-hal yang dapat membuat hati kita berpaling kepada selain Tuhan Yang Maha Esa.”

Sang Guru tersenyum dan kemudian berkata: “Engkau sungguh memiliki kemuliaan wahai muridku. Aku bangga padamu.”

Sang Guru : “Murid kedua! sekarang giliranmu, apa jawabanmu tentang makna kekayaan bagi manusi?”
Jawaban Murid Kedua

Murid Kedua menjawab, “Murid Mohon maaf Guru, Saya memiliki pendapat berbeda dengan yang disampaikan murid pertama. Selama perjalananku, Saya telah banyak berjumpa dengan raja dan juga saudagar kaya mereka sungguh dermawan guru. Mereka menggunakan kekayaan mereka untuk membangun tempat ibadah, menyantuni anak yatim, mereka memberi makanan serta membangun tempat tinggal untuk orang miskin dan mereka juga menolong orang orang yang sedang kesusahan. Mereka telah mencari kekayaan yang sangat banyak, kemudian kekayaan tersebut digunakan untuk melakukan kebaikkan kebanyak orang. Jadi menurut kesimpulan saya, bahwa kekayaan merupakan sumber dari kebaikan, karena dengan kekayaan dapat membuat manusia membawa kebaikan untuk dapat memberi serta membantu orang orang yang sedang mengalami kesusahan.”

Sang Guru: “Sungguh pengamatan yang luar biasa muridku. Lalu menurutmu apa yang seharusnya dapat kita lakukan?”

Murid Kedua: “Menurutku mencari kekayaan itu penting untuk manusia. Karena ketika kekayaan sudah didapat oleh manusia, maka tentu manusia bisa menjalani kehidupan yang lebih baik, dengan kekayaan tersebut dia dapat melakukan hal hal yang baik, ia dapat menyekolahkan anaknya agar memperolah pendidikan yang baik, Dia juga dapat beribadah dengan tenang tanpa harus memikirkan kekurangan uang untuk makan keluarganya, Ia juga dapat pergunakan uang tersebut untuk menolong keluarga, bersedekah dan juga membantu sesama manusia yang sedang membutuhkan. Oleh karena itu manusia tidak boleh hidup dalam kemiskinan Guru. Kita harus berupaya dengan segenap kemampuan agar manusia bisa memperoleh kekayaan serta terbebas dari kemiskinan. Itulah pendapatku, Guru!

Sang Guru tersenyum dan berkata: “Engkau merupakan samudera kebijaksanaan wahai muridku. Aku sungguh bangga kepadamu!”

Sang Guru kemudian berpaling ke Murid Ketiga:

“Murid ketiga! Sekarang giliranmu, Bagaimana menurutmu tentang makna kekayaan bagi manusia?”
Jawaban Murid Ketiga

Murid Ketiga pun bercerita, “Guru, selama merantau diperjalanan aku telah berjumpa dengan banyak orang kaya yang baik hati, akan tetapi banyak juga orang kaya yang jahat. Murid juga bertemu dengan orang miskin yang baik hati, akan tetapi banyak juga orang miskin yang jahat. Murid juga berjumpa dengan orang kaya yang taat beribadah dan juga selalu ingat pada Tuhan nya, akan tetapi ada juga orang kaya yang lupa dengan Tuhan. Seperti halnya orang kaya, murid juga banyak bertemu orang miskin yang selalu ingat pada Tuhan, tetapi ada juga orang miskin yang melupakan Tuhan nya.

Sang Guru tersenyum: “Jadi apa maksudmu muridku, apa makna kekayaan bagi manusia?”

Murid Ketiga: “Menurut pendapatku, ternyata kekayaan hanyalah sekedar alat. Karena pada dasarnya semuanya akan kembali kepada manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki tujuan hidup yang baik, tentu akan menggunakan kekayaan tersebut sebagai alat untuk ia mewujudkan kebaikan. Dan sebaliknya, ketika manusia tidak memiliki tujuan yang tidak baik, maka kekayaannya akan digunakan untuk hal hal yang tidak baik juga. Demikian maksud murid, Guru.”

Sang Guru: “Lalu menurutmu apa yang seharusnya dilakukan?”

Murid Ketiga: “Manusia haruslah mengetahui kemana ia akan menuju. Dengan mengetahui kemana ia akan menuju, maka apapun yang dimilikinya di dunia ini merupakan sebuah alat, bukan tujuan. Termasuk kekayaan.”
Sang Guru: “Lalu hendak kemanakah manusia menuju?”

Murid Ketiga: “Manusia merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu seharusnya kesanalah semua manusia menuju. Jika manusia sudah menyadari tujuannya, maka kekayaan yang dimiliki dapat menjadi kendaraannya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Namun jika sebaliknya, maka tentu kekayaan juga dapat membuat manusia menjauh dari Tuhan Yang Maha Esa.”
Sang Guru tersenyum kemudian berkata: “Wahai Muridku, sungguh engkau merupakan sumber kebijaksanaan dan juga samudera pengetahuan. Sekarang engkau adalah Guru baru di perguruan ini.”

Dan serentak kedua murid lainnya, Memberi hormat pada Murid Ketiga yang sekarang terpilih menjadi guru baru diperguruannya.

Kisah Seorang Guru Bijak dan 3 muridnya ini sungguh memberikan pelajaran yang sangat penting bagi manusia, dari cerita ini kita mempelajari bahwa siapapun kita (Miskin, Kaya, Tua dan Muda), kita hanyalah manusia yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Apa yang kita miliki didunia ini hanyalah sebuah titipan, kita boleh mencari kekayaan akan tetapi kita tidak boleh lupa siapa yang memberikan kita kehidupan. Semoga kisah ini bermanfaat, jangan lupa untuk membaca kisah inspirasi lainnya hanya di sipolos.com

Saya tidak tahu siapa yang membuat cerita tentang “Kisah Seorang Guru Bijak dan 3 muridnya” ini. cerita ini sudah banyak beredar di beberapa website. cerita ini sungguh memberikan banyak pelajaran bagi saya, oleh karena itu saya berfikir untuk membagikan cerita ini di sipolos.com, dan semoga artikel ini juga bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Source : http://www.sipolos.com/kisah-seorang-guru-bijak/

Sunday, May 21, 2017

Putus Asa atau Berusaha, Mana Pilihan Kamu?


Ada pepatah yang mengatakan hidup adalah sebuah pilihan, oleh karena itu sering kita menjumpai bahwa setiap kita sering dipertemukan dengan dua pilihan IYA atau TIDAK, SALAH atau BENAR, MENANG atau KALAH, PUTUS ASA atau BERUSAHA dimana kita harus memilih salah satu dari dua pilihan tersebut.

Pada cerita kali ini, kita akan membahas tentang kondisi dimana kita harus memilih untuk Putus Asa atau Berusaha. Berikut ini adalah ceritanya.

Hidup memang tidak selalu semudah yang diperkatakan oleh orang-orang, terutama oleh mereka yang telah sukses dan menuai banyak kemudahan di dalam kehidupan. Bagi yang sedang berupaya dan mencari kesuksesan itu sendiri, tentu semuanya akan jauh berbeda dan mungkin saja terasa jauh lebih sulit dari apa yang dibayangkan. Hal seperti inilah yang seringkali membuat sebagian orang menjadi mudah putus asa dan menyerah pada keadaan, lalu membiarkan mimpi-mimpi mereka terkubur semakin hari semakin dalam.

Putus asa dan menyerah pada keadaan adalah sebuah tindakan yang salah, di mana semua perjuangan selama waktu yang panjang sebelumnya, akan menjadi sia-sia belaka. Namun, selalu ada orang yang menjadikan ini sebagai pilihan, bahkan ketika mereka masih memiliki kemungkinan untuk meraih kesuksesan yang mungkin saja tinggal beberapa langkah saja di depan.
Belajar dari seeokor kuda yang terperosok

Kisah ini mungkin saja tidak asing lagi, bahkan beberapa orang menulisnya kembali sebagai sebuah gambaran atas tindakan positif yang bisa dilakukan untuk membuat situasi menjadi lebih baik lagi, bahkan di saat-saat tersulit sekalipun.

Di sebuah lokasi yang terletak di pinggiran kota, seekor kuda terperosok ke dalam sebuah lubang sempit yang dalam, tak kurang dari tinggi badannya yang terbilang jangkung itu. Pemiliknya mulai putus asa dan tidak tahu bagaimana mengeluarkan kuda tersebut dari dalam sana, bahkan meski dia dan para tetangga telah berupaya sepanjang siang yang terik hingga malam menjelang.

Lubang yang hanya menyisakan sedikit ruang untuk tubuhnya, membuat kuda tersebut tidak bisa menarik ancang-ancang untuk melompat keluar, terlalu sempit dan sulit untuk bergerak. Pemiliknya meneteskan air mata di sisinya, ketika memberinya minum melalui sebuah botol, untuk yang kesekian kalinya sepanjang hari ini. Kuda itu lega, sebab pemiliknya begitu menyayanginya, bahkan meski dia telah kelelahan untuk berupaya mengeluarkannya sepanjang hari ini.

Hari mulai gelap dan hujan turun perlahan. Kuda tersebut terdiam, seraya mengais-ngaiskan kakinya pada permukaan tanah yang mulai melunak. Dia tak bersuara, sebab tak ingin pemiliknya bersusah hati memikirkannya, sementara malam masih sangat panjang.

Hujan semakin deras dan kuda tersebut mulai kedinginan, namun dia tak juga bersuara. Kedua kaki depannya mulai digerakkan untuk mengais tanah di depannya yang kini basah tersiram air hujan. Sedikit demi sedikit, dimulai dari bagian depan kakinya yang sempit, kemudian mulai naik ke atas, hingga bagian bawah lubang itu semakin luas. Kakinya kini mulai bebas bergerak, ada ruang kosong dengan timbunan tanah basah di dalam lubang tersebut. Kuda itu mulai kelelahan, namun dia tak juga menyerah.

Hari lepas tengah malam dan kuda tersebut masih saja mengais tanah dengan semangat. Setengah bagian lehernya kini tampak ke permukaan, dasar lubang semakin meninggi oleh timbunan tanah. Untung saja hujan datang, rasa hausnya menjadi tidak terlalu berlebihan. Dia meraba sisi lubang yang kini semakin lebar, mengaiskan kembali kaki depannya ke tanah yang semakin melunak. Mengais kembali dan tidak berhenti, tak menyerah meski tubuhnya telah begitu lelah.

Fajar datang dan dengan sigap kuda tersebut meloncat keluar, menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil berusaha menepikan tanah dan lumpur di sana. Kuda yang hebat dan tangguh, yang berupaya dengan kuat untuk melalui malam sulit dan sangat melelahkan. Bahkan meski pada pandangan semua orang di sekitarnya, keberhasilannya adalah sebuah kemustahilan.

Kisah inspiratif ini menceritakan sebuah kondisi dimana kita dihadapi oleh 2 pilihan putus asa atau berusaha? Pada cerita ini tokoh utamanya adalah seekor kuda yang berusaha berjuang tanpa menyerah untuk keluar dari lubang yang mengurungnya. Rasa dingin dan letih tidak membuat kuda ini putus asa sampai akhirnya sesuatu yang bisa dibilang tidak mungkin (keluar dari lubang) akhirnya bisa dilakukannya. Di cerita ini kita bisa belajar bahwa segala hal yang kita anggap mustahil itu bisa terjadi, yang terpenting adalah kita tidak boleh menyerah dengan situasi yang terlihat mustahil untuk dilakukan, selama ada kemungkinan untuk berhasil walaupun jika di ibaratkan atau dituang kan dalam persentase adalah 1 % berhasil dan 99% adalah gagal. Jangan menyerah sebelum mencoba. Lakukanlah selama ada kemungkinan berhasil walaupun hanya 1%, lakukanlah, cobalah jangan menyerah sebelum memulai. Kalau kita menyerah sebelum memulai maka itu sama saja kita gagal. Semoga cerita ini bermanfaat untuk kita semua.

Source : http://www.sipolos.com/putus-asa-atau-berusaha/

Bersikap Tenang Pada Situasi Kacau ala CEO Google Sundar Pichai


Sundar Pichai menjadi terkenal setelah ia menjabat sebagai CEO Google. Pria kelahiran Tamil Nadu, India pada tahun 1972 ini, sukses dengan beberapa proyek yang dikembangkannya, antara lain: browser Crome dan Android. Ia dikenal sebagai sosok yang ramah, cerdas, pekerja keras dan selalu menjadi panutan bagi anak buahnya. Lewat sebuah pidatonya yang inspiratif di depan anak buahnya beberapa waktu yang lalu, Sundar Pichai berkisah tentang seekor kecoa yang menjijikkan.

Kisah ini terjadi di sebuah restoran, di mana pengunjung bagitu ramai dan sedang bersantap dengan tenang. Namun tiba-tiba saja seekor kecoa terbang dari sebuah sudut dan hinggap tepat di baju seorang wanita. Secara spontan, wanita tersebut mulai panik dan berteriak, seraya berusaha untuk menyingkirkan binatang itu dari tubuhnya. Kepanikan ini bahkan begitu cepat menular, di mana teman-teman semejanya juga ikut serta dan mulai berteriak ketakutan. Kedua tangan wanita itu berusaha dengan keras untuk menghalau kecoa tersebut, berhasil.

Namun sialnya, kecoa tersebut justru mendarat pada pundak teman yang duduk semeja dengannya, sehingga drama itu terus berlanjut di sana. Pertunjukan yang sama, wanita yang panik dengan kecoa di tubuhnya, serta teman-temannya yang turut serta membantu dan menambah kepanikan tersebut.

Melihat kejadian ini, seorang pelayan wanita bergegas menghampiri dan berupaya untuk menenangkan situasi, tentunya dengan menyelamatkan kelompok tersebut dari serangan kecoa. Setelah kelompok wanita tersebut berupaya saling menghalau si kecoa, akhirnya binatang itu hinggap di kemeja pelayan wanita tersebut. Pelayan itu tetap tenang dan mulai mencermati gerakan binatang tersebut di bajunya. Setelah beberapa saat, pelayan itu meraih kecoa tersebut dengan jarinya dan membuangnya keluar dari area restoran tersebut.

Setelah menyampaikan pidato yang baru setengah kisah ini, Pichai meneguk kopinya dan memperhatikan reaksi dari anak buahnya yang terlihat menyimpan banyak pertanyaan di benak mereka. Rasanya terlalu naif jika kita menyalahkan seekor kecoa atas semua kekacauan yang terjadi di restoran tersebut, bukan?

Jika kecoa tersebut yang harus bertanggung jawab dan menjadi pengacau di sana, lalu mengapa pelayan wanita yang membuangnya tidak merasa terganggu dan heboh seperti wanita yang lainnya? Dia bahkan menangani masalah tersebut dengan mudah, bahkan mendekati sempurna dengan sikap tenangnya.

“Jadi, apa yang bisa kita peroleh dari kisah tadi?” tanya Pichai melanjutkan pidatonya.

“Saya mulai berpikir tentang kelompok wanita karir yang begitu panik ketika menghadapi seekor kecoa, sementara di lain sisi hal ini bahkan bisa ditangani dengan sangat tenang oleh pelayan wanita yang ada di sana. Jelas sekali masalah tidak datang dari kecoa tersebut, melainkan dari kelompok wanita karir yang tidak mampu menghadapinya saja. Respon mereka yang panik tersebut sangat berlebihan, sehingga suasana restoran menjadi kacau dan tidak menyenangkan. Kecoa memang binatang yang menjijikkan, dan mustahil membuat mereka menjadi seekor yang lucu dan terlihat menarik.”

“Hal yang sama juga banyak kita alami, bebagai masalah di dalam kehidupan kita, yang tentunya tidak semua bisa kita ubah dan buat menjadi sesuatu yang selalu menyenangkan. Masalah pekerjaan, rumah tangga bersama pasangan, teman yang tidak setia, target yang terlalu besar dan mustahil, deadline yang tidak masuk akal, dan masih banyak masalah lainnya yang begitu menjengkelkan. Sudah pasti, semua masalah tersebut tidak akan pernah menyenangkan, bukan?”

“Namun, masalah ini bukanlah inti dari kekacauan yang kita alami, tetapi ketidakmampuan kita menghadapinya adalah masalah kita yang sebenarnya. Seperti kisah di atas, masalahnya bukan pada kecoa yang hinggap di lengan wanita tersebut, tetapi masalahnya ada pada wanita yang tidak mampu menghadapi keberadaan kecoa itu di lengannya.”

Source : http://www.sipolos.com/bersikap-tenang-pada-situasi-kacau/